Jagat maya kembali geger. Sebuah unggahan viral seorang perempuan yang membatalkan pesanan ojek online (ojol) hanya karena menganggap wajah sang driver tidak menarik. Melalui pesan di aplikasi, perempuan itu menulis kalimat yang sontak membuat warganet geram:

“Sorry ya, aku cancel. Gak nyaman kalau drivernya gak enak dilihat.”
Unggahan tersebut langsung menyebar cepat di media sosial. Banyak pengguna mengecam tindakan tersebut sebagai bentuk diskriminasi visual yang tidak beralasan. Seiring dengan meluasnya kritik, banyak juga yang mempertanyakan kepekaan moral generasi muda saat ini terhadap profesi dan martabat sesama.
Bermula dari Pesanan Biasa, Berakhir di Panggung Penghakiman
Peristiwa itu bermula ketika seorang pengemudi ojol menerima pesanan dari pelanggan perempuan di kawasan Jakarta Selatan. Ia langsung bergegas menuju lokasi penjemputan. Namun, belum sempat sampai, sang pelanggan tiba-tiba membatalkan pesanan tanpa penjelasan yang sopan. Tak hanya itu, perempuan tersebut malah meninggalkan komentar kasar mengenai penampilan driver dalam kolom chat aplikasi.
Salah satu teman si driver membagikan kisah tersebut di media sosial sebagai bentuk pembelaan. Ia menyertakan tangkapan layar percakapan, lengkap dengan identitas samar si pelanggan. Dalam hitungan jam, netizen pun turun tangan, sebagian besar menunjukkan empati terhadap sang driver dan mengecam tindakan si pelanggan.
Respons Publik: Dari Cibir hingga Refleksi Sosial
Respons masyarakat pun beragam. Banyak netizen langsung membela sang driver dengan menyuarakan pentingnya menghargai pekerjaan orang lain. Tidak sedikit pula yang menyindir balik perempuan tersebut dengan menyebutnya “korban standar kecantikan palsu”.
Beberapa komentar bahkan mengajak pengguna media sosial untuk melawan bentuk diskriminasi berbasis rupa fisik. Mereka menilai bahwa menilai seseorang hanya dari wajah merupakan tindakan yang dangkal dan merusak norma sosial yang sehat.
“Driver ojol itu kerja keras demi hidup, bukan buat kontes kecantikan. Kalau kamu maunya yang ganteng, ya jangan naik ojol, sewa bodyguard sekalian,” tulis seorang pengguna X (sebelumnya Twitter).
Psikolog Angkat Suara: Fenomena Superfisial di Era Medsos
Fenomena ini tak luput dari perhatian para pakar psikologi sosial. Menurut psikolog komunitas, dr. Meilani Sihombing, kejadian seperti ini mencerminkan meningkatnya kecenderungan masyarakat menilai seseorang berdasarkan tampilan luar saja. Ia menyebut hal ini sebagai efek dari budaya visual berlebihan yang berkembang di media sosial.
“Anak muda sekarang terlalu sering terpapar citra kesempurnaan visual. Akibatnya, banyak yang lupa bahwa empati dan etika jauh lebih penting dari sekadar penampilan,” ungkap Meilani dalam sesi wawancara daring.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tindakan membatalkan layanan karena alasan fisik bukan hanya tidak etis, tetapi juga memperparah ketimpangan sosial. Bila dibiarkan, kebiasaan ini bisa mengikis rasa hormat terhadap profesi tertentu.
Profesi Bukan Cermin Nilai Fisik
Di tengah derasnya arus komentar, muncul pula suara-suara bijak yang mengingatkan pentingnya menghargai profesi apa pun. Mereka menegaskan bahwa menjadi pengemudi ojol bukanlah hal yang rendah, melainkan pekerjaan halal yang menuntut kerja keras dan dedikasi.
Banyak yang menyuarakan bahwa sikap pelanggan tersebut mencerminkan arogansi semu, seolah dunia harus selalu tampil sesuai preferensinya. Padahal, layanan ojol bertujuan memberikan kemudahan transportasi, bukan ajang mencari kesenangan visual.
Salah satu komentar menyentil tajam:
“Kalau kamu pesan ojol berharap dapat pangeran berkuda, itu artinya kamu salah aplikasi.”
Driver Tetap Profesional, Tak Tersulut Emosi
Meski mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, sang driver memilih untuk tetap tenang. Ia tidak membalas secara kasar, bahkan menyempatkan diri mengucapkan “terima kasih” sebelum pelanggan membatalkan pesanannya. Sikap ini menuai pujian luas. Banyak yang menilai bahwa sang driver menunjukkan tingkat kedewasaan dan profesionalisme yang luar biasa.
Beberapa pihak pun menyarankan agar aplikasi ojol menyediakan sistem perlindungan terhadap mitra pengemudi dari tindakan diskriminatif semacam ini. Beberapa lainnya mengusulkan agar pelanggan diberi sanksi bila terbukti melakukan cancel berdasarkan alasan personal yang tidak relevan.
Kampanye Anti-Body Shaming Makin Gencar
Seiring merebaknya peristiwa ini, aktivis digital mulai menggaungkan kembali kampanye anti-body shaming dan anti-diskriminasi rupa. Mereka mengajak masyarakat, terutama pengguna media sosial, untuk lebih bijak dalam bersikap dan lebih manusiawi dalam berinteraksi.
Sejumlah influencer juga ikut serta dengan membagikan kisah inspiratif dari pengemudi ojol lain yang tetap semangat meski sering menerima perlakuan tidak menyenangkan dari pelanggan.
“Mereka layak dihormati, bukan dikritik karena wajah mereka,” ucap seorang selebgram dalam video dukungannya.
Penutup: Wajah Tak Menentukan Nilai Seseorang
Kisah ini mengajarkan satu hal penting: nilai seseorang tidak pernah tergantung pada wajahnya. Karakter, kerja keras, dan hati yang tulus jauh lebih berarti. Dalam dunia yang sering kali terlalu memuja penampilan, kita butuh lebih banyak orang yang berani bersikap adil dan empatik.
Membatalkan pesanan ojol hanya karena pengemudinya tak sesuai selera visual bukan sekadar tindakan tidak sopan. Itu bentuk penghinaan terhadap martabat manusia. Kita bisa memilih diam, atau ikut mengubah cara pandang. Karena di balik helm dan jaket oranye, ada manusia yang bekerja keras demi hidup yang layak.
Baca Juga: Detik-detik Israel Temukan Terowongan di Khan Younis, Gaza








